Setelah Lama Menanti, Hujan Turun di Sejumlah Wilayah Sangihe
Setelah Lama Menanti, Hujan Turun di Sejumlah Wilayah Sangihe
SIGAPNEWS.CO.ID | SANGIHE — Kadang, sesuatu yang terlihat sederhana bagi sebagian orang justru menjadi kabar yang begitu berarti bagi mereka yang sedang menunggu. Di tengah kondisi panas dan kekeringan yang belakangan dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Utara, turunnya hujan di beberapa wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Minggu (13/9/2026), sontak membawa rasa lega bagi warga.
Dari pantauan sejumlah unggahan di media sosial, hujan turun di Kampung Kaluwatu, Kecamatan Manganitu Selatan, wilayah Kecamatan Tahuna Barat, serta Kampung Utaurano, Kecamatan Tabukan Utara.
Hujan awalnya datang perlahan. Rintik-rintik membasahi tanah yang sebelumnya kering, sebelum kemudian berlangsung cukup lama di sejumlah wilayah.
Bagi warga yang sudah lama menantikan air dari langit, rintik itu bukan sekadar perubahan cuaca. Ada rasa syukur, salah satunya terlihat dari unggahan Fitri Budiman Antahari. Melalui akun media sosialnya, ia membagikan momen ketika hujan turun di Kampung Utaurano yang merupakan kampungnya.
Dengan gaya khas yang begitu spontan, ia menuliskan bagaimana dirinya berlari mengambil pakaian yang sedang dijemur ketika hujan tiba.
“Padahal ada baju dijemur, tapi pas turun hujan malele aer mata da lari ambil baju sambil ba teriak Alhamdulillah.” ucapnya
Ungkapan sederhana itu menggambarkan betapa dinantinya hujan setelah panas dan kering yang dirasakan masyarakat. Ungkapan syukur serupa juga datang dari warga lainnya.
“Kase Mawu (terima kasih Tuhan), akhirnya Tahuna Barat hujan,” tulis akun media sosial Viva Oroh Masoa.
Unggahan-unggahan tersebut kemudian mendapat respons dari warganet. Kolom komentar dipenuhi ucapan syukur dan doa, dengan banyak warga menyebut turunnya hujan sebagai sebuah berkat.
Bagi masyarakat, air hujan yang turun hari ini memiliki arti yang lebih besar dari sekadar membasahi jalan atau membuat tanah kembali lembap.
Ada sumber air yang mulai berkurang. Ada tanaman yang membutuhkan air. Ada pula kekhawatiran terhadap kondisi lahan yang semakin kering dan rentan terhadap kebakaran.
Karena itu, ketika rintik hujan mulai terdengar di atap rumah dan membasahi halaman, sebagian warga seakan mendapatkan kembali sesuatu yang sudah lama mereka tunggu.
Air untuk kebutuhan sehari-hari. Kesegaran bagi tanaman. Dan sedikit rasa aman setelah berhari-hari menghadapi panas. Meski hujan belum merata dan di sejumlah kampung masih turun dalam bentuk rintik-rintik,
sementara wilayah lainnya masih merasakan panas, kedatangannya tetap menjadi kabar baik. Sebab dalam kondisi kekeringan, setetes air pun bisa terasa begitu berharga.
Hari ini, langit Sangihe mungkin belum sepenuhnya basah. Namun dari rintik-rintik yang turun, tumbuh satu harapan sederhana di hati masyarakat: semoga hujan terus datang, sumber-sumber air kembali terisi, tanaman kembali segar, dan kemarau segera berlalu.
Bagi mereka, hujan hari ini bukan hanya tentang cuaca.Ia adalah tentang syukur, lega, dan harapan yang akhirnya jatuh bersama air dari langit. (*)
Editor :Iskandar