Api Gunung Awu Belum Padam, Bupati Petakan Perimeter Sebelum Menyentuh Kebun Warga
Api Gunung Awu Belum Padam, Bupati Petakan Perimeter Sebelum Menyentuh Kebun Warga
SIGAPNEWS.CO.ID | SANGIHE — Enam hari berlalu sejak kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, belum juga sepenuhnya berakhir. Di balik kepulan asap dan titik-titik api yang masih terlihat di lereng gunung, ada kekhawatiran lain yang terus dijaga jangan sampai kobaran api memasuki perkebunan masyarakat.
Kekhawatiran itu menjadi salah satu perhatian utama dalam rapat koordinasi yang digelar Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe Michael Thungari dan Wakil Bupati Tendris Bulahari bersama Forkopimda, para camat, kapolsek dan danramil dari wilayah yang berpotensi terdampak
Rapat yang berlangsung di ruang rapat kantor Bupati Kepulauan Sangihe, pada Kamis (10/9/2026) Sore tersebut tidak hanya membicarakan bagaimana api dipadamkan, tetapi juga bagaimana langkah antisipasi dilakukan sebelum api mendekati ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat.
Bupati menyampaikan, hingga saat ini pihaknya bersyukur karena belum ada api yang masuk ke perkebunan masyarakat. Namun kondisi tersebut bukan alasan untuk lengah.
Dalam pemetaan yang dilakukan, salah satu titik api terdekat berada di lereng yang mengarah ke Kampung Bahu. Jaraknya diperkirakan masih sekitar dua kilometer dari kawasan perkebunan warga.
Jarak tersebut menjadi ruang yang harus dijaga bersama. Karena bagi masyarakat di sekitar Gunung Awu, perkebunan bukan sekadar hamparan tanah. Di sanalah sebagian kehidupan keluarga bertumpu, tempat bekerja, mencari penghasilan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, langkah berikutnya diarahkan untuk memperjelas wilayah yang berpotensi berbahaya, membagi tugas penanganan, sekaligus menentukan perimeter sebagai batas toleransi pergerakan api.
Metode pemadaman juga dipersiapkan agar api dapat ditangani sebelum memasuki kawasan perkebunan masyarakat. Tidak berhenti pada koordinasi, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe juga menyiapkan dukungan operasional bagi tim di lapangan.
Bupati menyampaikan bahwa dana operasional akan mulai dicairkan kepada kecamatan-kecamatan yang membutuhkan. Dengan begitu, kebutuhan logistik dan operasional bagi tim serta relawan dapat disiapkan lebih cepat oleh masing-masing kecamatan.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya aman, peran TNI-Polri, pemerintah kecamatan dan kampung, serta para relawan dan komunitas masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya menghadapi kebakaran tersebut.
Mereka menjadi garda terdepan yang terus bergerak ketika api belum sepenuhnya bersahabat dengan kawasan Gunung Awu. Bupati pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hingga kini masih bertahan dan bekerja di lapangan.
Pada saat yang sama, masyarakat diminta tidak panik dan tetap mengacu pada informasi dari sumber-sumber yang terpercaya. Pesan lainnya juga tak kalah penting, musibah bukan saatnya untuk saling menyalahkan.
Di tengah ancaman kebakaran, yang dibutuhkan justru semangat untuk saling menguatkan, menjaga persatuan dan memberikan dukungan kepada mereka yang sedang berjuang di lapangan.
“Sangihe kuat kalau kita kompak,” demikian pesan Bupati.
Enam hari kebakaran Gunung Awu menjadi pengingat bahwa menghadapi bencana bukan hanya soal siapa yang berada paling dekat dengan api. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana seluruh elemen masyarakat berdiri bersama, menjaga lingkungan, melindungi perkebunan warga, dan memastikan musibah tidak berubah menjadi kehilangan yang lebih besar. (*)
Editor :Iskandar