Jangan Biarkan Rumah Tradisional Sangihe Tinggal Cerita, Nilai Budayanya Kembali Digali
Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe Michael Thungari (depan tengah) foto bersama usai acara seminar
SIGAPNEW.CO.ID | SANGIHE – Rumah tradisional Sangihe kembali menjadi perhatian. Bukan hanya sebagai bangunan peninggalan masa lalu, tetapi sebagai ruang yang menyimpan cerita, pengetahuan, nilai sosial, dan identitas masyarakat dari generasi ke generasi.
Hal itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Seminar Budaya bertajuk “Penemuan Kembali Rumah Tradisional Sangihe sebagai Ruang Hidup dan Identitas Budaya” yang dibuka Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari.
Seminar tersebut menjadi ruang untuk menggali kembali keberadaan rumah tradisional Sangihe di tengah perubahan zaman. Para peserta diajak melihat rumah tradisional bukan sebatas bentuk arsitektur, tetapi bagian dari kehidupan dan kebudayaan masyarakat.
Tiga narasumber turut membagikan pandangan dalam kegiatan itu, yakni Ketua Dewan Adat Lukman Makapuas, Sesepuh Adat Niklas Mehare, serta Soleman Bakir, selaku penggagas kegiatan.
Bupati Michael Thungari dalam sambutannya menekankan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sangihe. Rumah tradisional, menurutnya, menyimpan berbagai nilai dan kearifan lokal yang perlu dikenali kembali oleh generasi sekarang.
Pesannya sederhana, jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal rumah tradisional dari cerita atau dokumentasi, sementara nilai dan pengetahuan yang ada di dalamnya perlahan hilang.
Karena itu, seminar tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi. Ada dorongan untuk menggali, mendokumentasikan, melestarikan hingga memperkenalkan kembali rumah tradisional Sangihe, terutama kepada generasi muda.
Kegiatan turut dihadiri Yubelita Andriani Tudus, pejabat fungsional yang mewakili Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, bersama unsur adat dan peserta seminar.
Dari ruang seminar itu, satu pesan budaya kembali mengemuka. Rumah tradisional bukan sekadar bangunan tua, tetapi bagian dari cerita tentang siapa masyarakat Sangihe dan bagaimana nilai-nilai itu diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)
Editor :Iskandar