Kedua Kalinya! Pelabuhan Petta Kembali Ramai, UMKM Kecipratan Berkah Pemindahan Kapal
Pelaksana Tugas Kepala KUPP Kelas II Tahuna, Meifrid Palenewen, Kamis (6/8/2026).
SIGAPNEWS.CO.ID | SANGIHE - Pelabuhan Petta kembali bersiap menjadi pusat aktivitas transportasi laut di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Untuk kedua kalinya pada tahun 2026, layanan sementara angkutan laut dari Pelabuhan Tahuna akan dialihkan ke Pelabuhan Petta, Kecamatan Tabukan Utara, mulai 13 hingga 18 Agustus 2026.
Di balik kebijakan tersebut, tersimpan cerita yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Ramainya penumpang yang datang dan pergi menjadi harapan baru bagi para pedagang kecil, pemilik rumah makan, pemilik toko, hingga pengemudi bentor yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pelabuhan.
Pelaksana Tugas Kepala KUPP Kelas II Tahuna, Meifrid Palenewen, Kamis (6/8/2026), menjelaskan bahwa pemindahan sementara dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian rehabilitasi fasilitas Pelabuhan Tahuna sekaligus mendukung operasional kapal Tol Laut KM Logistik Nusantara 2.
Menurutnya, kapasitas ruang tambat di dermaga Pelabuhan Tahuna saat ini menyempit akibat pekerjaan rehabilitasi. Dengan panjang kapal Tol Laut yang mencapai sekitar 82 meter, ruang sandar kapal menjadi terbatas sehingga diperlukan pengaturan agar pelayanan tetap berjalan aman dan lancar.
"Kami memprioritaskan sandar KM Logistik Nusantara 2 di Pelabuhan Tahuna untuk menjaga kelancaran distribusi logistik dan ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat. Sementara aktivitas kapal penumpang dialihkan ke Pelabuhan Petta selama enam hari," jelasnya.
Ia menambahkan, Pelabuhan Petta maupun Pelabuhan Ngalipaeng juga tetap menjadi alternatif sandar apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan kapal beroperasi di Pelabuhan Tahuna.
Namun bagi masyarakat Petta Raya dan sekitarnya, perpindahan aktivitas pelabuhan bukan sekadar perubahan lokasi keberangkatan kapal. Kehadiran ratusan penumpang setiap hari menghadirkan denyut ekonomi yang kembali terasa.
Lapak-lapak sederhana mulai ramai menawarkan makanan siap saji, minuman, jajanan tradisional, hingga berbagai kebutuhan perjalanan. Rumah makan dan toko di sekitar pelabuhan pun diperkirakan kembali dipadati pembeli, sementara jasa bentor menjadi pilihan utama penumpang menuju berbagai tujuan.
Momentum ini menjadi peluang bagi warga untuk menambah penghasilan di tengah aktivitas rehabilitasi Pelabuhan Tahuna yang masih berlangsung. Kehadiran kapal bukan hanya menghubungkan pulau-pulau di perbatasan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil.
Selama sepekan, Pelabuhan Petta diperkirakan kembali menjadi ruang bertemunya mobilitas dan harapan. Kapal-kapal yang bersandar tidak hanya mengangkut penumpang dan barang, tetapi juga membawa berkah yang dirasakan langsung oleh para pelaku usaha kecil dan keluarga di sekitar kawasan pelabuhan.(*)
Editor :Iskandar