Data Desil Jadi Penghalang, Mimpi Kuliah Adya Pateda Anak Janda dari Raku Terancam Terhenti
Caption: Adya Pateda
SIGAPNEWS.CO.ID | SANGIHE – Air mata seorang ibu pecah ketika harapan anaknya untuk melanjutkan pendidikan tiba-tiba berada di ujung ketidakpastian. Adya Pateda, 18 tahun, warga Kampung Raku, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, saat ini tengah menempuh pendidikan di Rumkit 3 Teling, Manado, melalui jalur beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Namun, persoalan data desil membuat kelanjutan pendidikan Adya kini menjadi tanda tanya. Adya merupakan anak dari Vida Kaehe, seorang janda yang selama ini mengandalkan pekerjaan serabutan dan berjualan sayur untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi Vida, keberhasilan anaknya mendapatkan kesempatan kuliah merupakan harapan besar. Dengan segala keterbatasan, ia berusaha mempersiapkan kebutuhan Adya sebelum berangkat ke Manado.
Namun, persoalan muncul ketika data ekonomi keluarga Adya dibaca pada sistem yang menjadi dasar pihak Rumkit. Menurut informasi yang disampaikan kepada keluarga, data Adya yang digunakan pihak Rumkit masih menunjukkan desil 6. Sementara itu, keluarga Adya sebelumnya telah mengurus perubahan data dan pada akhir September 2026, data di BPS disebut telah berubah turun.
Perbedaan data inilah yang kemudian membuat keluarga Adya berharap ada penjelasan sekaligus solusi agar anak mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Pihak Rumkit, menurut keterangan keluarga, juga telah menyampaikan permintaan maaf terkait kondisi tersebut. Data yang digunakan pihak Rumkit disebut bersumber dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan dalam data tersebut Adya masih terbaca berada pada desil 6, meskipun data yang telah diperbarui di BPS menunjukkan penurunan desil.
Bagi Adya, persoalan perbedaan data tersebut bukan sekadar angka di dalam sistem. Di balik angka itu ada masa depan seorang anak yang sedang berusaha keluar dari keterbatasan ekonomi keluarganya.
“Saya tidak ingin menyerah pada keadaan, tetapi saya takut kehilangan kesempatan untuk meraih masa depan,” ungkap Adya.
Sementara bagi sang ibu, persoalan tersebut menjadi beban pikiran yang tidak mudah.
“Saya ini seorang janda, pekerjaan serabutan, tidak punya rumah, tinggal pun bersama kakak, tapi masuk desil 6,” tutur Vida saat ditemui di Kampung Raku, Sabtu (3/10/2026).
Vida mengaku sampai tidak bisa tidur memikirkan nasib pendidikan anaknya yang terkendala desil.
“Mendengar informasi dari pihak Rumkit saya sampai tidak tidur dua malam memikirkan anak saya yang sudah tidak melanjutkan kuliah lagi. Kasihan anak saya, semangatnya luar biasa, tapi harus putus kuliah karena desil,” katanya dengan sedih.
Menurut Vida, Adya sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Rumkit 3 Teling. Namun, apabila tidak lagi mendapatkan fasilitas KIP, Adya harus melanjutkan melalui jalur umum dengan biaya yang harus ditanggung keluarga.
Beberapa biaya yang menjadi
kekhawatiran adalah asrama belum termasuk SPP, seragam dan kebutuhan pendidikan lainnya.
“ Saya tidak mampu membiayai. Jadi jalan keluarnya anak saya harus berhenti, tidak melanjutkan lagi,” ujar Vida.
Rencananya, Adya akan pulang ke Sangihe pada Senin (5/10/2026). Meski demikian, keluarga Adya masih berharap persoalan data desil tersebut dapat dicarikan jalan keluar.
Mereka berharap ada peninjauan kembali dengan memperhatikan kondisi ekonomi keluarga sekaligus pembaruan data yang telah dilakukan.
Adya sendiri tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Ia hanya ingin tetap kuliah dan menyelesaikan pendidikan yang telah diperjuangkannya. Ia ingin suatu hari nanti dapat membahagiakan ibunya yang selama ini berjuang seorang diri.
Di balik desil 6, ada seorang anak bernama Adya yang sedang mempertaruhkan mimpinya. Bagi sistem, mungkin itu hanya angka.
Tetapi bagi Adya dan ibunya, angka tersebut bisa menentukan apakah sebuah mimpi akan terus berjalan atau harus berhenti di tengah jalan.
Kini, keluarga hanya berharap ada jalan keluar agar persoalan data tidak menjadi alasan seorang anak dari keluarga kurang mampu kehilangan kesempatan untuk meraih masa depannya. (*)
Editor :Iskandar